{"code":200,"msg":"OK","clientId":"","data":{"kode_konten":"BK9642","kode_penerbit":"47","kode_penulis":"6972","kode_supplier":"5","tipe_konten":"ebook","judul":"Gelombang Sunyi; Catatan Dwi Dasawarsa","sinopsis":"\u201c-Gelombang Sunyi: Catatan Dwi Dasawarsa- menghimpun sejumlah 159 buah puisi yang ditulis Deni Irwansyah antara 1997 \u2013 2017. Sejak puisi pertama hingga terakhir, nada-nada yang kita terima sebagai pembaca nampak mengalun harapan, kepasrahan, kerinduan, kesaksian, dan kekaguman dari insan kepada Tuhannya. Bisa jadi, puisi-puisi Deni dimaksudkan sebagai do\u2019a-do\u2019a dari abdi kepada Gusti, yang bila meminjam kata-kata penyair Amir Hamzah, dalam puisi \u2018Padamu Jua', akan senantiasa \u2018rindu rasa, rindu rupa\u2019 dan berposisi \u2018bertukar tangkap dengan lepas\u2019.\u201d\n\n            Atep Kurnia, Peneliti Literasi dan Peminat Puisi\n\n \n\n\u201cAlur hidup itu mencipta siluet langkah sang anak manusia yang telah diprasasti dalam berbait kata. Saya suka puisinya. Konotasi tingkat tinggi dimainkan membuat larut dalam penghayatan. Bravo!!\u201d\n\nWahyu Sujani, Penulis Novel \u201cKetika Tuhan Jatuh Cinta\u201d\n\n \n\n\u201cSejumlah puisi Deni Irwansyah dalam kumpulan puisinya ini, ditulis dengan sederhana. Sekalipun demikian, ia masih punya makna yang layak untuk kita renungkan, semisal tentang keadaan kita yang tengah menuju kubur itu. Tidak hanya renungan religius yang ada dalam kumpulan puisi ini, renungan lainnya dengan berbagai variasinya masing-masing bisa kita temukan juga. Jadi pendek kata, kumpulan puisi ini menarik untuk dibaca.\u201d\n\nSoni Farid Maulana, Penyair, Pengelola Rumah Baca Ilalang\n\n \n\nItulah puisi, menurutku. Diksi yang dirakit menjadi daya juang hidup jiwa yang  meronta, menangis, tertawa, diam, mencintai, membenci, apatis, marah, bijaksana, bodoh, pintar, cerdas, jujur, dan kosong. Ia melepaskan diri dariku dalam bentuk yang nyata, bahasa. Aku melepasnya juga dengan harapan dan do\u2019a;\n\n \n\n\u2026\n\n \n\nHanya kepada-Mu\n\nbait demi bait rinduku kembali\n\ndan aku bersujud\n\ndalam gelora nafas-Mu\n\nyang kekal\n\n \n\n(Gelombang Sunyi, Nagreg Pebruari 2010):\n\n \nSimbol-simbol linguistik sebagai sarana penyampaian pesan berhamburan di alam bawah sadarku. Mengetuk pintu rumahku di malam hari. Memaksa membuka engsel jendela kamar. Menyapaku saat fajar tiba. Mengajakku bermain petak umpet di senja  dengan sunset yang sesekali disembunyikan pasukan astral yang mulai bangkit, melangkah di batas magrib menuju kegelapan.","penulis":"Deni Irwansyah","penerbit":"Diandra Kreatif","isbn":"978-602-336-854-9","eisbn":"","preview":"pdf-sample.pdf","cover":"https:\/\/kubuku.id\/prod\/img\/cover\/137ffea9336f8b47a66439fc34e981ee.webp","harga_dasar":"65000","formatted_harga_dasar":"65,000","diskon_persen":0,"diskon_maks":0,"harga_akhir":"65000","formatted_harga_akhir":"65,000","jumlah":0,"terpakai":0,"tgl_akhir":"2026-05-13 23:12:08","rating":"0"},"cache":"write"}