{"code":200,"msg":"OK","clientId":"","data":{"kode_konten":"BK5249","kode_penerbit":"56","kode_penulis":"3989","kode_supplier":"12","tipe_konten":"ebook","judul":"Pemberdayaan Heptagon Akses Rumah Tangga Masyarakat Miskin","sinopsis":"Kata \u201cpemberdayaan\u201d adalah merupakan terjemahan dari kata \u201cempowerment\u201d. Konsep \u201cempowerment\u201d, atau \u201cpemberdayaan\u201d sering digunakan oleh banyak lembaga untuk mengekspresikan kegiatan pengabdian pada masyarakat dengan pendekatan pemberdayaan, termasuk para aktifis pembangunan di Perguruan Tinggi degan Tri Darmanya dan juga kegiatan \u201cpemberdayaan masyarakat\u201d yang dilakukan dan biayai secara \u201cbesar-besaran\u201d oleh lembaga pemerintah pada umumnya. Dalam praktek di lapang, ada kesan \u201cpenyediaan modal\u201d diyakini sebagai \u201cpendekatan pemberdayaan\u201d yang paling menentukan. Sebagai suatu konsep \u201calternatif pembangunan\u201d, pada intinya \u201ckegiatan pemberdayaan\u201d adalah kegiatan \u201cmulti dimensi\u201d yang memberikan tekanan pada otonomi pengambilan keputusan dari suatu kelompok masyarakat, yang berlandaskan pada sumberdaya pribadi, langsung, partisipatif, demokratis, dan pembelajaran sosial melalui pengalaman langsung (Friedmann, 1992). Sebagai titik fokusnya adalah lokalitas, sebab \u201ccivil society\u201d menurut Friedmann (1992) akan merasa siap diberdayakan lewat issue-issue lokal. Friedmann (1992) selanjutnya menegaskan bahwa konsep \u201cempowerment\u201d, merupakan hasil kerja dari proses interaktif baik di tingkat ideologis maupun praksis. Di tingkat ideologis, konsep \u201cempowerment\u201d merupakan hasil interaksi antara konsep \u201ctop-down dan bottom-up\u201d. Dengan demikian \u201ckegiatan pemberdeyaan\u201d memikul misi besar berupa pendekatan pembangunan yagn menginterasikan antara \u201cgrowth strategy dan people-centered strategy\u201d. Sedangkan di tingkat praksis, interaktif akan terjadi antar rumahtangga dan masyarakat yang otonom.\n\nBuku ini mengacu pada konsep pemberdayaan \u201cmulti dimensi\u201d disusun dalam delapan Bab berikut:\n\nBAB I: Pemberdayaan Multi-Dimensi : Pendekatan Pentagon aset dan Saptagon (Heptagon, Tujuh) Kelembagaan Akses Masyarakat Miskin.\n\nBAB II : Penguatan Aksesibilitas SDA Berkelanjutan\n\nBAB III : Penguatan Aksesibilitas Sarana-Prasarana dan Teknologi Ramah Lingkungan\n\nBAB IV: Penguatan Aksesibilitas SDM Rumahtangga Terhadap Pendidikan dan Latihan Vokasi.\n\nBAB V: Penguatan Aksesibilitas Kelembagaan Modal Finansial Secara Lokal\n\nBAB VI: Penguatan Aksesibilitas Pemasaran Ikan\n\nBAB VII: Penguatan Aksesibilitas Kelembagaan Modal Sosial dan Prasarana Lokal\n\nBAB VIII: Penguatan Aksesibilitas Politik dan Kebijakan Penganggaran Pembangunan Masyarakat\n\nDalam masyarakat demokrasi yang merindukan kehidupan sejahtera, pendekatan heptagon akses dapat dijadikan acuan setiap komintas dan pembuat kebijakan untuk meraihnya.","penulis":"Sahri Muhammad; Irfan Islamy; Eko Ganis Sukoharsono","penerbit":"UB PRESS","isbn":"978-602-203-509-1","eisbn":"978-602-203-510-7","preview":"pdf-sample.pdf","cover":"https:\/\/kubuku.id\/prod\/img\/cover\/6dff2291fe2e822de2e8068a182c4759.webp","harga_dasar":"65000","formatted_harga_dasar":"65,000","diskon_persen":0,"diskon_maks":0,"harga_akhir":"65000","formatted_harga_akhir":"65,000","jumlah":0,"terpakai":0,"tgl_akhir":"2026-05-22 04:44:51","rating":"0"},"cache":"write"}