{"code":200,"msg":"OK","clientId":"","data":{"kode_konten":"BK38144","kode_penerbit":"495","kode_penulis":"26763","kode_supplier":"143","tipe_konten":"ebook","judul":"Kontestasi Nalar Keberagaman Kontemporer","sinopsis":"Pergulatan nalar-nalar keberagamaan dalam membangun identitas dan memperebutkan eksistensi di ruang-ruang publik, rasanya tidak pernah \u201dseheboh\u201d sekarang-sekarang ini. Jika memutar ingatan, kembali ke era tahun 80-90an, percaturan keagamaan paling-paling diwarnai kontestasi keberagamaan antara \u201dcorak NU\u201d dan \u201dala Muhammadiyah\u201d. Perdebatan \u201dhanya\u201d seputar: hukum membaca usholi, baca basmalah di awal al-Fatihah, doa qunut, menggerakkan telunjuk kanan saat tasyahud, dan hal-hal semacam itu yang berada dalam rumpun ikhtilaf fiqh. Dalam sekup yang lebih mengglobal, sentimen anti-Syiah bukannya tidak ada. Tapi \u201dkekaguman\u201d akan kemenangan Revolusi Islam Iran dalam menjungkalkan rezim Syah Pahlevi mengalahkan sentimen anti-Syiah yang terdengar sayup-sayup.\r\n\r\n\r\n\r\n\r\n\r\nDi dunia kampus, era-era itu dapat dibilang merupakan era keemasan pemikiran Islam di mana nama-nama pemikir-penulis progresif menghiasi forum-forum kajian, lingkar-lingkar studi, bulletin-bulletin pemikiran mahasiswa dan aktifitas-aktifitas kajian lainnya. Mulai dari Munawir Sjadzali dengan \u201dproyek\u201d Reaktualisasi Hukum Islam, Nurcholish Madjid (Cak Nur) dengan \u201dagenda\u201d sekularisasi dan pluralisme, Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dengan \u201dkredo\u201d Kearifan Tradisi, hingga Jalaluddin Rakhmat","penulis":"Wildani Hefni; dkk","penerbit":"LKiS","isbn":"978-623-7177-82-1","eisbn":"proses","preview":"pdf-sample.pdf","cover":"https:\/\/kubuku.id\/prod\/img\/cover\/b7979ded26be04c42e5f623c4b58ffb5.webp","harga_dasar":"77000","formatted_harga_dasar":"77,000","diskon_persen":0,"diskon_maks":0,"harga_akhir":"77000","formatted_harga_akhir":"77,000","jumlah":0,"terpakai":0,"tgl_akhir":"2026-05-22 02:37:00","rating":"0"},"cache":"write"}